Kamis, 06 Agustus 2020

Pesona Randang Kalah dengan Jemuran

 

Pagi menjelang siang, rasa berbagi yang tinggi alias empati makanan ketika si randang kurban yang berlebih di atas meja makan terlalu banyak untuk dihabiskan sendirian. Sesampai di sekolah terdengarlah suara lirik manja si artis solidaritas "randang banyak dibawa dari rumah", suara sayup-sayup artis tersebut, membuat lirih suara sang maniac daging (bukan daging ayam) bukan berarti pula keturunan singa "mana randangnyo biar dimakan". Balasan dari artis solidaritas "besok lah di bawa". Sebelum besok menjelang, suasana ruangan majlis guru kembali hiruk pikuk dengan dentingan bunyi keybord laptop untuk membuat tugas luring siswa karena dalam suasana Covid-19.

Di pagi hari bu guru ngidam meleleh air liurnya mengingat kosakata rendang berlebih dari perbincangan si artis solidaritas dan si maniac daging, maka di telponlah si artis solidaritas untuk membawakan rendang ke sekolah untuk si dedek janin. Dilema bagi si artis solidaritas dengan janjinya bersama si maniac daging, dalam ingatan hanya rendang untuk si maniac daging, yang menelpon ibu ngidam untuk membawakan rendang. Jadi, dibawalah sekotak rendang dengan ukuran kotak 5x10 cm ke sekolah. 

Sesampai di sekolah ketika si artis solidaritas dan bu guru ngidam duduk sama rendah di atas kursi kebesarannya, terdapatlah kotak rendang dengan rendangnya di atas meja di depan bu guru ngidam. Si maniac daging yang notabene tidak tahu dengan percakapan ditelepon mengambil kotak rendang dan membaui rasa khas dari rendang dengan membolak balikan kotaknya.

Setelah puas membedakan wangi khas randang di ujung sensori penciumannya, si maniac daging berceloteh ria, "wah wangi randangnya lain ya, pakai bumbu apa membuatnya?". Di minang, perempuan dipastikan bisa membuat randang, kalau belum bisa buat randang belum tentu urang minang kato para ahli kata-kata, entah iya entah tidak hanya peneliti selera yang tahu. "pakai ambu-ambu,"(ambu-ambu=parutan kelapa yang di onseng - onseng), rupanya wangi khas randang di setiap negeri minang beraneka rasa dan selera di setiap sudut pelosok negeri nya. Kalau ditanya randang daerah mana yang paling enak, si maniac daging akan bergumam "semua randang enak dimakan dalam keadaan lapar".

Bu guru ngidam berceloteh dengan artis solidaritas, "itu randang dedek janin kan?, kok dikasih sama si maniac daging, yang nelpon bawa daging siapa?". Terungkaplah fakta ada konspirasi terselubung randang. Karena orang ngidam banyak maunya, dengan kerelaan hati diberikanlah kotak rendang tersebut kepada bu guru ngidam. Secara otomatis bu guru ngidam menolak mentah-mentah rendang dari maniac daging karena kotaknya dibolak balik yg beresiko pada dedek janinnya. Dengan senang hati si maniac daging merespon niat baik bu guru ngidam untuk tidak membagikan rendang nya. 

Terlihatlah raut kecewa dari bu guru ngidam untuk memakan randang. Dikarenakan rasa bersalah maka artis solidaritas akan membawakan randang untuk bu guru ngidam nantinya sepulang sekolah yang akan dikirim langsung secara express melalui mobil jemputan. Setelah lama bincang sana bincang sini dengan berbagai topik, akhirnya waktu pulang sekolah menghampiri juga, betapa senang dan bahagianya bu guru ngidam akan dibawakan randang melalui jemputan express ke rumahnya. Selang beberapa waktu tibalah guru kerumahnya masing masing dengan kisahnya sepanjang waktu yang telah berlalu.

Setiba di rumah aktifitas rumah tangga tidak dapat dielakan, bu guru ngidam mengerjakan segala sesuatu untuk kebutuhan keluarganya. Begitu juga artis solidaritas mengerjakan juga pekerjaan rumah yang terbengkalai. Tak disangka “cewang di langit tando ka paneh, gabak di hulu tando ka hujan” tak sesuai rumus lagi, rintik-rintik air meluncur seperti role coster, tanpa kode tanpa isyarat, begitu juga kondisi keadaan zaman sekarang, jangan berharap bisa mempertahankan segala sesuatu, dimana perubahan secara pasti akan mengelindas secara pasti tanpa menggunakan hukum ilmiah.

Artis solidaritas terburu-baru mengangkat jemuran yang dijemur di halaman rumahnya dikarenakan butiran air sudah mulai turun menghampiri lapisan kulit bumi. Setiap orang bergegas menyelesaian keperluannya ketika hujan telah turun, begitu juga mobil jemputan express berlalu dengan membawa kabar angin, Di balik jendela, bu guru ngidam melihat mobil jemputan sudah jauh sampai ke jembatan. Merana rasa randang sampai keronkongan tak sampai sampai, maka dihubungilah artis solidaritas untuk klarifikasi rendang. Penuturan yang tidak diharapkan terlontar jua bahwa jemuran tak perlu waktu untuk mengangkatnya ketika hujan telah menampaki wujudnya. Mobil express pun berlalu tanpa kabar berita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar